KORDANEWS – Penerapan sistem baru yang akan dimulai pada tanggal 1 Desember mendatang, yakni para penumpang Light Rail Transit (LRT) tidak diwajibkan melakukan pembayaran dengan uang tunai, melainkan menggunakan KUE atau Kartu Uang Elektronik.
Namun penerapan sistem pembayaran ini masih menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat yang ingin menggunakan transportasi pertama di Indonesia.
Menurut Chandra warga Palembang, yang sering menggunakan transportasi massal ini, bahwa dengan biaya Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu untuk satu kartu dinilai sangat memberatkan para penumpang.
Apalagi LRT hingga saat ini masih dianggap warga sebagai kereta wisata bukan transportasi sehari-hari.
“Jadi kalau mau naik LRT beli kartu warga akan berpikir dua kali. Sebaiknya dikaji ulang saja kebijakan tersebut,” katanya.
Senada, warga lainnya Rangga lebih menyarankan sebaiknya pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) selaku pengelola LRT agar membuat kartu elektronik sendiri jangan melakukan kerjasama dengan pihak bank. Dikarenakan warga dengan terpaksa harus menjadi nasabah bank terlebih dahulu demi mendapatkan uang elektronik.
“Satu orang infonya harus satu kartu jadi tambah bikin repot saja, bagaimana dengan orang dari desa tidak ngerti mau naik LRT menggunakan KUE. Kalau bisa dicarikan solusi terbaik untuk konsumen jangan hanya mengejar modernisasi saja,” tegasnya.
Sementara itu menaggapi hal tersebut, Manager Humas PT. KAI Divre III Palembang, Aida Suryanti mengatakan, Adapun untuk penggunaannya, pertama pengguna perlu mengaktivasi terlebih dahulu di loket stasiun LRT.













