Budaya

Sejarah Hari Buku Sedunia

×

Sejarah Hari Buku Sedunia

Share this article

Alasan penentapan tanggal 23 April, dikarenakan pada tanggal tersebut juga menjadi hari lahir dan kematian beberapa penulis terkenal. Seperti: Wiliam Shakespeare, kematian Miguel de Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega dan Josep Pla, dan kelahiran Maurice Druon, Manuel Mejia Vallejo dan Halldor Laxness.

Sebagai salah satu bentuk perayaan Hari Buku Sedunia, UNESCO menggandeng organisasi yang terkait dengan industri buku untuk memilih Ibu Kota Buku Dunia, sehingga setiap tahun akan berganti. Negara yang menjadi Ibu Kota Buku Dunia akan ‘bertugas’, pada tanggal 23 April tahun tersebut hingga 22 April tahun berikutnya. Pada tahun 2018 ini Athena di Yunani telah terpilih sebagai Ibu Kota Buku Dunia ke-18.

Sementara, kota-kota yang pernah terpilih sebagai Ibu Kota Buku Dunia lainnya, yakni Madrid (2001), Alexandria (2002), New Delhi (2003), Antwerp (2004), Montreal (2005), Turin (2006), Bogota (2007), Amsterdam (2008), Beirut (2009), Ljubljana (2010), Buenos Aires (2011), Yerevan (2012), Bangkok (2013), Port Harcourt (2014), Incheon (2015) dan Wroclaw (2016).

Di Indonesia sendiri, adanya peringatan hari buku sedunia dijadikan sebagai momen peringatan literasi bagi siswa untuk meningkatkan minat baca dan kecintaannya pada buku, karena tidak bisa dipungkiri minat baca siswa di Indonesia masih rendah.

Di sebagian sekolah di Indonesia sendiri ada sejumlah metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru seperti Read Aloud dan Story telling yang dilakukan guru untuk mengajak anak-anak menyukai buku. Semoga dengan adanya Hari Buku Sedunia ini bisa meningkatkan kesadaran para siswa dan juga masyarakat Indonesia lainnya untuk lebih memacu diri menulis dan membaca.(Ist)

Editor : J.Wick

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *