Nadjamuddin Ramly, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menambahkan, penetapan oleh UNESCO berlangsung pada Sabtu pukul 12.15 waktu Baku, Azerbaijan. Selain Indonesia, pada saat bersamaan warisan budaya yang diakui dan ditetapkan oleh sidang UNESCO sebagai warisan dunia antara lain Australia, Cina, India, Jepang dan Laos.
Kota Sawahlunto yang terletak di Provinsi Sumatera Barat ini merupakan salah kota tambang batu bara tertua di kawasan Asia Tenggara. Kota Sawahlunto telah berkembang menjadi kota wisata tua yang memiliki jejak sejarah. Produksi batu bara dimulai sejak pemerintahan Hindia-Belanda pada abad ke-19.
Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto atau peninggalan tambang batu bara Ombilin dari Sawahlunto, bukan cuma mempunyai nilai sejarah. Alasan lainnya lantaran kawasan tersebut mengandung nilai universal dari sisi ekonomi, budaya hingga teknologi. Perkembangan teknologi yang menggabungkan ilmu teknik pertambangan bangsa Eropa dengan kearifan lingkungan lokal ada di sini.
Hubungan industri tambang batu bara, meliputi sistem perkeretaapian, pelabuhan yang berperan penting bagi pembangunan ekonomi serta sosial di Sumatera. Perpaduan antara pendekatan unik metode fusion dan hubungan sistemik ini bahkan diadopsi oleh tambang batu bara di Afrika Selatan pada saat pendudukan Belanda di sana.
Selain itu, Ombilin juga menjadi potret dinamisnya interaksi sosial dan budaya antara dunia Timur dan Barat, yang berhasil mengubah daerah tambang terpencil menjadi perkotaan yang terintegrasi, serta interaksi masyarakat multi-etnis dan multi-agama.
Adapun warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO lainnya adalah Kawasan Percandian Borobudur di Magelang, Jawa Tengah (1991), Kawasan Candi Prambanan di Klaten, Jawa Tengah (1991), Situs Manusia Purba Sangiran di Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah (1996), dan Lansekap Budaya Bali: Sistem Pemerataan Pembagian Air Subak untuk Pertanian di Bali (2012).
Dilansir dari laman whc.unesco.org, Kota Sawahlunto merupakan daerah tambang batu bara tertua di Asia Tenggara. Kawasan itu dikelilingi sejumlah bukit, seperti Bukit Pola, Bukit Pari, dan Bukit Mato.
Editor :John.W













