“Saya kuatirkan jika anak-anak ini tidak bersosialisasi secara fisik dengan teman sebaya atau lingkungannya, mereka akan menjadi manusia yang tidak peduli. Kids jaman now lebih asik dengan dunianya sendiri berkutat dengan gadget/androidnya, ” jelas pria 51 tahun ini.
Di sisi lain tambah Gubernur, jika permainan nasional tidak lagi dipertontonkan pada anak zaman sekarang. Bukan tidak mungkin permainan anak tradisional kian tergerus oleh kemajuan zaman dan terlupakan akhirnya hilang tanpa bekas. Untuk itu pada festival permainan anak tradisional yang ke-5 ini, Herman Deru berharap kedepan lapangan Monpera kedepan sebagai ruang terbuka untuk anak.
“Pemprov bersama Pemkot Palembang dapat bekerjasama menjadikan Monpera sebagai ruang terbuka untuk anak. Silakan kerjakan desainnya, nanti kita bantu,” papar Gubernur.
Kehadiran gubernur Herman Deru dalam festival permainan anak tradisional ke-5 kali ini didampingi istri Hj Febrita Lustia Deru serta ditemani Danis salah satu cucu tercintanya. Herman Deru dalam sambutannya juga meminta pada orang tua dan semua pihak terkait untuk dapat membentengi anak-anaknya dari bahaya peredaran narkotika dan obat-obat terlarang.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata kota Palembang sekaligus Ketua Pelaksana festival permainan anak tradisional, Isnaini Madani mengatakan kegiatan ini dilakukan sebagai rangkaian peringatan Hari Anak Nasional yang ke-53, dan festival permainan anak tradisional telah memasuki pelaksanaan tahun ke-5.
“Festival permainan anak tradisional ini dilaksanakan agar anak-anak lebih mengenal permainan yang mengutamakan ketangkasan ragawi, dan hampir terlupakan,” ungkap Isnaini Madani.
Ditambahkannya dipilihnya lokasi festival permainan anak tradisional di Monpera karena Monpera adalah lambang perjuangan sekaligus untuk mengenalkan nilai-nilai perjuangan para pahlawan kepada anak-anak.
“Pada festival permainan anak tradisional ini digelar juga lomba-lomba, seperti lomba beregu putra bentengan, beregu putra tarik tambang, beregu putri tapak panjang, perorangan putri bakiak batok, balap karung, yeye, dan cak ingkling,” tandasnya.
Editor : Chandra













