“Itu perlu validasi, kita minta orang yang paham tafsir. Memang sedikit harus belajar Bahasa Palembang. Kita juga meminimalisir kesalahan dengan terus mengadakan workshop,” sambung dia.
Alfi membaca, proses dan perjalanan membuat terjemahan Alquran ini bukan tanpa halangan. Karena, ide mereka dipertanyakan beberapa pihak dan tidak sedikit keraguan dengan niatan tersebut.
“Yang menentang ada, beberapa orang mengatakan, ‘untuk apa yang diterjemahkan ke Bahasa Palembang’, ‘siapa yang mau bacanya’. Banyak kontroversi,” kata dia.
Terkait dengan hal tersebut, Alfi tetap berharap pada proses validasi untuk draft akhir terjemahan ini, akan menjadi langkah untuk mendorong syiar agama dan Bahasa Palembang halus.
“Kita terpikir bagaimana melestarikan Bahasa Palembang asli yang sudah ada sejak dulu agar tidak punah. Makanya, untuk memudahkan pembaharuan dapat diinstal, bisa dua bahasa, Arab dan Palembang atau tiga bahasa cepat, Arab, Indonesia dan Palembang,” terang dia.
Sementara itu, Ketua MUI Sumsel, Prof KH Aflatun Muchtar, menyambut baik persiapan terjemahan Alquran Bahasa Palembang yang telah mencapai rancangan akhir. Mimpi mereka beberapa tahun yang lalu akan menjadi nyata dalam waktu dekat.
“Saya kira ini suatu hal yang sangat positif, karena Alquran ini harus kita sosialisasikan dan bisa dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Lalu bagaimana, di satu sisi kita mulai kembali Bahasa Palembang, di sisi lain bagaimana mencari kita alquran untuk bahasa palembang. Alhamdulillah, Terima kasih atas tanggapan kami dari litbang dan dibiyayai pengerjaanya, “kata dia.
Penggunaan bahasa ibu ini, jelasnya, diharapkan dapat merekatkan masyarakat dengan Alquran. Meskipun, hal itu tidak menjadi indikator seseorang menjadi lebih religius. Menurutnya, dengan adanya Alquran Bahasa Palembang, minimal masyarakat tergugah untuk membacanya.
“Ini menjadi pembaharuan bahasa Alquran dengan bahasa yang diminta masyarakat, kita diharapkan akan lebih mudah membicarakan kalbu. Maka penting bagi ulama, untuk terus memberikan sosialisasi ke masyarakat,” jelas dia.
Tidak hanya berbicara tentang terjemahan Bahasa Palembang, Aflatun juga meminta peran serta pemerintah dalam membantu menghidupkan kembali budaya melayu Palembang. Salah satunya, dengan membuat Kampung Melayu Palembang.
Kampung Melayu Palembang ini merupakan proses yang dilanjutkan, diangkat menjadi budaya Palembang yang diharapkan menjadi salah satu tujuan wisata baru untuk mengenal Palembang.
“Setelah Bahasa Palembang, kita angkat kebudayaanya juga. Lewat rencana pembuatan Kampung Melayu Palembang. Di sana nanti, akan ada sejarah gimana adat pernikahan Palembang dan lain sebagainya. Ada juga kita usulkan Pergub Wisata Halal, mulai dari hotel, makanan, perjalanan,” katakan Aflatun. (Ab)
Editor: Jhonny













