Dikatakan nya, di era discrustion ini membuat media-media cetak mendekati mati, walaupun masih ada yang bertahan namun saat ini orang tinggal digegaman, masalah tantangan lain media siber, media siber mau ngapain, karena media siber di Indonesia hidup tanggung-tanggung, kapasitas hidup media-media siber hidupnya kurang gizi, atau stunting.
Kalau hanya untuk mengandalkan hidup kerjasama dengan pemerintah seberapa besar untuk menghidupkan wartawan, namun jika ingin berbeda dengan media lain harua meningkatkan kualitas dan ekslusif.
Diakuinya, media siber bisa hidup apabila memiliki liputan ekslusif, memiliki liputan investigatif, yang berbeda dengan yang lain, tqpi untuk mencapai hal itu perlu SDM yang mumpuni, namun hal itu perlu biaya, jika pendapatan media tersebut hanya 30 juta mau gaji wartawan berapa, inilah menjadi masalahnya.
“Saat ini tantangan media dan pers harus mengubah isi yang lebih mengunakan pola pendekatan ekspersif dan mengunakan hal yang berbeda.” tegasnya.
Hal itu juga disampaikan, Dr Andreas Lionardo, MSi selaku Dosen Fisip Unsri, yang menekankan dengan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini kualitas seorang wartawan.
“Sekarang sudah saatnya wartawan harus beralih menulis berita berdasarkan data yang valid. Hal ini penting agar media massa baik cetak, elektronik, dan media online tetap hidup dan seorang wartawan harus memiliki kemampuan statistik dan memiliki big data. karena Ini sangat penting agar pembaca disuguhi berita yang benar-benar memiliki data,” ungkapnya.
Dijelaskan, Firdaus Qomar selaku Ketua PWI Sumsel mengatakan kegiatan ini untuk memberikan wawasan bagi para wartawan demi peningkatkan kualitas wartawan di Sumsel.
“Kegiatan yang dilakukan PWI Sumsel ini, dalam rangka pencerahan bagi semua wartawan, sekaligus untuk membahas isu-isu seputar dunia, baik nasional dan nasional, kali ini kita membahas soal Tantangan dan Peluang Pers Indonesia,” tutupnya. (eh)
Editor : Jhonny













