Dr. Renee Carr, seorang ahli psikologi klinis, memperingatkan jika kondisi ini terus berlangsung, otak yang bersifat plastis akan beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang penuh dengan dopamin. Kondisi ini akan memunculkan ketergantungan.
Ketika Anda berhenti menonton, kadar dopamin di dalam otak akan berkurang secara drastis sehingga otak tidak lagi terbiasa dengan kondisi tersebut. Alhasil, Anda akan kembali menonton untuk memasok kembali hormon dopamin yang dibutuhkan otak.
Menurut Carr, proses ini sama dengan gejala adiksi yang ditimbulkan oleh seseorang yang mengalami ketergantungan obat-obatan, alkohol, dan hubungan seksual.
Selain itu, penelitian yang dipublikasikan Psycnet mengungkap bahwa gejala adiksi akan muncul lebih kuat ketika seseorang justru melakukan binge watching secara tiba-tiba, tanpa merencanakannya terlebih dahulu.
Dampak binge watching pada perubahan kerja otak
Jika Anda sampai merasa tertekan atau depresi setelah berhenti menonton maka ini menunjukan gejala adiksi yang lebih parah. Kondisi ini disebut juga dengan depresi situasional karena hanya berlangsung pada situasi tertentu. Oleh sebab itu, binge watching juga rentan memicu timbulnya depresi dan gangguan kecemasan pada seseorang.
Tidak hanya menimbulkan gejala adiksi, menonton selama berjam-jam lamanya juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh JAMA Psychiatry di tahun 2015. Dalam penelitian, kelompok orang gemar menonton TV membutuhkan waktu lebih lama dalam memproses informasi dan mengalami penurunan tingkat fokus saat belajar.
Hal ini disebabkan maraton film merupakan kegiatan yang membuat seseorang tidak aktif secara fisik dalam waktu yang lama. Saat menonton, otak tidak bekerja secara aktif sebagaimana ketika bermain game atau mencari informasi di internet.
Editor : John.W













