Awas Menonton Film Secara Maraton Bikin Ketagihan

KORDANEWS – Maraton nonton film, serial, atau acara TV atau dikenal juga dengan binge watching sekarang ini menjadi kegiatan rekreatif yang populer dilakukan untuk melepas penat. Tak jarang, aktivitias ini menjadi semacam hobi yang direncanakan dengan matang dari jauh-jauh hari. Banyak orang yang lebih memilih untuk menghabiskan akhir pekannya di dalam rumah untuk menonton film secara maraton. Wajar saja, binge watching di rumah memang tidak menguras energi dan kantong layaknya nongkrong di kafe berkelas.

Meskipun begitu, terdapat pengaruh negatif nonton maraton bagi kesehatan dan perilaku sehari-hari. Salah satu di antaranya adalah efek kecanduan atau adiksi yang ditimbulkannya. Kenapa saat melakukan binge watching Anda seakan hilang kendali sehingga enggan beranjak dari tempat duduk untuk berhenti menonton?

Maraton film buat mood jadi senang

Catherine Franssen, seorang ahli neurosains dari Longwood University, mengibaratkan maraton film alias binge watching sebagai sebuah proses memperoleh pencapaian atau keberhasilan.

Setelah selesai menonton satu musim serial TV, Anda merasakan sensasi kepuasaan yang sama seperti ketika Anda berhasil menyelesaikan setumpuk pekerjaan sebelum tenggat tiba.

Setiap episode dalam satu musimnya merupakan daftar pekerjaan yang mesti Anda selesaikan. Setiap Anda berhasil menyelesaikan satu pekerjaan maka otak melepaskan hormon dopamin dan serotonin. Hormon dopamin lah yang membuat Anda merasakan kepuasan sehingga lebih terpacu untuk menyelesaikan pekerjaan selanjutnya.

Hal yang sama terjadi ketika Anda berhasil menyelesaikan setiap episode secara berturut-turut. Terlebih lagi, pelepasan dopamin akan semakin bertambah jumlahnya sehingga Anda akan semakin merasa bahagia.

Sayangnya, kebiasaan maraton film bikin kecanduan

Maraton film membuat hati senang karena dopamin diproduksi dalam jumlah banyak. Sayangnya, jumlah dopamin yang terlalu tinggi bisa jadi tanda gejala adiksi atau kecanduan.

Dr. Renee Carr, seorang ahli psikologi klinis, memperingatkan jika kondisi ini terus berlangsung, otak yang bersifat plastis akan beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang penuh dengan dopamin. Kondisi ini akan memunculkan ketergantungan.

Ketika Anda berhenti menonton, kadar dopamin di dalam otak akan berkurang secara drastis sehingga otak tidak lagi terbiasa dengan kondisi tersebut. Alhasil, Anda akan kembali menonton untuk memasok kembali hormon dopamin yang dibutuhkan otak.

Menurut Carr, proses ini sama dengan gejala adiksi yang ditimbulkan oleh seseorang yang mengalami ketergantungan obat-obatan, alkohol, dan hubungan seksual.

Selain itu, penelitian yang dipublikasikan Psycnet mengungkap bahwa gejala adiksi akan muncul lebih kuat ketika seseorang justru melakukan binge watching secara tiba-tiba, tanpa merencanakannya terlebih dahulu.

Dampak binge watching pada perubahan kerja otak

Jika Anda sampai merasa tertekan atau depresi setelah berhenti menonton maka ini menunjukan gejala adiksi yang lebih parah. Kondisi ini disebut juga dengan depresi situasional karena hanya berlangsung pada situasi tertentu. Oleh sebab itu, binge watching juga rentan memicu timbulnya depresi dan gangguan kecemasan pada seseorang.

Tidak hanya menimbulkan gejala adiksi, menonton selama berjam-jam lamanya juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh JAMA Psychiatry di tahun 2015. Dalam penelitian, kelompok orang gemar menonton TV membutuhkan waktu lebih lama dalam memproses informasi dan mengalami penurunan tingkat fokus saat belajar.

Hal ini disebabkan maraton film merupakan kegiatan yang membuat seseorang tidak aktif secara fisik dalam waktu yang lama. Saat menonton, otak tidak bekerja secara aktif sebagaimana ketika bermain game atau mencari informasi di internet.

Editor : John.W

film Maraton Nonton

Related Post

Leave a reply

Tirto.ID
Loading...