KORDANEWS – PT Pertamina Patra Niaga menegaskan kepemimpinannya dalam pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia melalui partisipasi pada ASEAN Sustainable Aviation Fuel (SAF) Workshop 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bersama European Union Aviation Safety Agency (EASA) di Sheraton Bali Kuta Resort, Denpasar, Bali, pada 13–15 Juli 2026.
Forum ini menjadi wadah kolaborasi negara-negara ASEAN untuk mempercepat implementasi SAF sebagai solusi dekarbonisasi sektor penerbangan.Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan, Sokhib Al Rokhman, menyampaikan apresiasi kepada Pertamina atas komitmennya membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Menurutnya, kolaborasi yang dibangun Pertamina bersama para pemangku kepentingan menjadi langkah strategis dalam mempercepat transisi menuju penerbangan rendah emisi sekaligus memperkuat daya saing industri aviasi nasional.
Ia menegaskan Kementerian Perhubungan terus mendorong pengembangan dan implementasi SAF melalui penguatan regulasi serta kolaborasi lintas sektor. Kehadiran SAF produksi Pertamina yang telah memenuhi standar internasional menjadi fondasi penting untuk mempercepat dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu motor pengembangan SAF di kawasan.
Vice President Aviation Fuel Business PT Pertamina Patra Niaga, Yosep Iswadi, mengatakan forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi pengembangan SAF di ASEAN.
“Pertamina telah membangun ekosistem SAF terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui kolaborasi lintas sektor. SAF tersertifikasi CORSIA yang diproduksi di Green Refinery RU IV Cilacap kini telah disalurkan melalui Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai, menegaskan kesiapan Pertamina menyediakan bahan bakar aviasi berstandar internasional untuk mendukung dekarbonisasi penerbangan sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengembangan SAF di ASEAN,” ujar Yosep.
Pada kesempatan tersebut, Pertamina memperkenalkan ekosistem SAF terintegrasi (end-to-end ecosystem) sebagai bagian dari strategi mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat. Melalui booth interaktif, Pertamina menampilkan seluruh rantai nilai SAF, mulai dari pengumpulan minyak jelantah melalui program UCOllect, proses produksi secara co-processing di Green Refinery RU IV Cilacap, hingga distribusi dan refueling kepada maskapai penerbangan.















