KORDANEWS – Sebagian besar warga Provinsi Sumsel tentunya mengetahui Goa Napalicin. Terletak di Kecamatan Ulu Rawa, Kabupaten Muratara, konon menurut legenda yang dipercaya warga setempat, dulunya bukit tersebut adalah sebuah kapal yang terdampar. Kemudian lewatlah seorang pengembara sakti bernama Serunting Sakti atau Si Pahit Lidah. Melihat ada kapal yang terdampar, Si Pahit Lidah berusaha untuk naik ke atasnya namun tidak berhasil. Si Pahit Lidah pun menggumam, dan kemudian gumaman (sumpah) itu membuat kapal berubah menjadi batu.
Goa Batu Napalicin berada pada ketinggian sekitar 20 meter dari permukaan jalan, di dalamnya terdapat lorong sepanjang lebih kurang 1,5 kilometer. Lorong itu menghubungkan empat bukit, yakni Bukit Batu, Semambang, Payung, dan Karang Nato atau masyarakat setempat menyebutnya, Bukit Keratau.
Lorongnya tidak luas, hanya bisa dilalui dengan cara merunduk bahkan tiarap. Jarak bukit itu dari ibu kota kecamatan sekitar 12 km, melalui jalan darat maupun sungai. Hingga kini, di dalam goa batu masih tersimpan sejuta misteri.

Jika tengah berkunjung ketempat tersebut, maka di bagian depan, kita langsung disuguhi pemandangan yang artisik. Saat ini, para pengunjung yang umumnya wisatawan lokal akan disuguhi budaya setempat berupa tarian dan lagu daerah. Diiringi. Alunan nada biola, seorang tetua menghibur pengunjung disertai anak-anak yang membawakan tarian menyambut tamu.
Memasuki lorong-lorong goa, kita akan langsung menemukan ciri khas penghuni goa yakni kelelawar ditambah tetesan air dari atas gua semakin memberikan kesan mistis. Apalagi, sesekali kelelawar beterbangan. Pada beberapa bagian memang gelap sehingga warga setempat memasang beberapa obor bambu sebagai alat penerangan. Di bawah cahaya temaram, keindangan berbagai sisi goa makin berbinar.
Setidaknya kita butuh lebih dari empat jam untuk menikmati berbagai sudut goa. Pada beberapa bagian, cahaya menembus goa, terutama antara bukit yang satu dengan bukit yang lain. Celah-celah batu membiaskan bentuk artistik.













