Sport

Takhta Beracun Bola Emas: Kisah Tragis Peraih Ballon d’Or yang ‘Diharamkan’ Juara Piala Dunia

×

Takhta Beracun Bola Emas: Kisah Tragis Peraih Ballon d’Or yang ‘Diharamkan’ Juara Piala Dunia

Sebarkan artikel ini

KORDANEWS — Panggung Piala Dunia selalu menghadirkan drama, kejutan, dan cerita unik tersendiri. Salah satu mitos paling terkenal yang kembali terbukti nyata dalam sejarah sepakbola adalah “Kutukan Ballon d’Or”. Hingga saat ini, belum ada satu pun pemain yang memegang trofi Ballon d’Or aktif mampu mengangkat trofi Piala Dunia di tahun yang sama atau turnamen terdekat setelahnya.

Statistik mencatat, status sebagai pemain terbaik dunia versi majalah France Football justru menjadi beban berat yang berujung pada kegagalan tragis di level tim nasional.

Sejarah Panjang Kegagalan Para Megabintang

Kutukan ini bukan sekadar kebetulan satu atau dua kali, melainkan rentetan sejarah yang menimpa nama-nama terbesar dalam sepakbola sejak penghargaan ini dibuka untuk pemain global:

  • Ronaldo Nazario (1998): Datang ke Piala Dunia 1998 di Prancis sebagai peraih Ballon d’Or 1997. Ronaldo tampil mengerikan sepanjang turnamen, namun secara misterius mengalami masalah kesehatan sesaat sebelum laga final. Brasil akhirnya tumbang 0-3 dari Prancis.
  • Ronaldinho (2006): Berstatus sebagai pemain terbaik dunia 2005 setelah tampil magis bersama Barcelona. Namun di Piala Dunia 2006 Jerman, Ronaldinho tampil melempem tanpa mencetak satu gol pun, dan Brasil disingkirkan Prancis di perempat final.
  • Lionel Messi (2010 & 2014): Messi merajai Ballon d’Or sebelum Piala Dunia 2010 dan 2014. Hasilnya? Di Afrika Selatan 2010, Argentina hancur 0-4 oleh Jerman di perempat final. Di Brasil 2014, Messi berhasil menembus final namun kembali dikalahkan Jerman 0-1. (Messi baru bisa juara dunia pada 2022, justru saat ia bukan berstatus peraih Ballon d’Or aktif tahun tersebut).
  • Cristiano Ronaldo (2014 & 2018): CR7 memenangkan Ballon d’Or sesaat sebelum Piala Dunia 2014 dan 2018. Pada 2014, Portugal bahkan langsung gugur di fase grup, sementara pada 2018 mereka kandas di babak 16 besar oleh Uruguay.

Kasus Paling Tragis: Karim Benzema (2022)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *