Budaya

6 Kebudayaan Jawa yang Turun-temurun Diwariskan Hingga Sekarang

×

6 Kebudayaan Jawa yang Turun-temurun Diwariskan Hingga Sekarang

Share this article

3. Filosofi
Orang Jawa juga dikenal lekat dengan filosofi kehidupan, terutama dengan apa yang diajarkan oleh Sunan Kalijogo. Dalam kegiatannya berdakwah, seringkali Sunan Kalijogo menggunakan pendekatan tradisi sehingga banyak orang Jawa yang mengikuti ajarannya. Misalkan saja, lagu Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul merupakan karya beliau yang sampai saat ini masih diperdengarkan turun-temurun.

Sunan Kalijogo juga meninggalkan filosofi hidup yang termuat dalam Dasa Pitutur yang masih dijalankan sampai sekarang. Isinya di antaranya adalah urip iku urup, memayu hayuning bawana ambrasta dur hangkara, sura dira jaya jayaningrat lebur dening pangastuti, ngluruk tanpa bala menang tanpa ngasorake sekti tanpa aji-aji sugih tanpa bandha, dan sebagainya.
4. Kesenian
Dalam bidang seni budaya, masyarakat Suku Jawa bisa dibilang memiliki kekayaan seni yang beragam. Setidaknya seni tradisional ini dibagi menjadi 3 kelompok menurut akar budayanya, yakni Banyumasan (Ebeg), Jawa Tengah dan Jawa Timur (Ludruk dan Reog). Untuk seni musik, masyarakat Jawa memiliki Langgam Jawa yang merupakan adaptasi musik keoncong ke dalam musik tradisional Jawa, khususnya Gamelan.

Selain itu, Suku Jawa memiliki ragam seni tari dari berbagai daerah, yakni Tari Bambangan Cakil dari Jawa Tengah, Tari Angguk dari Yogyakarta, Tari Ebeg dari Banyumas, Tari Gandrung dari Banyuwangi, Tari Kridhajati dari Jepara, Tari Kuda Lumping dari Jawa Tengah, Tari Reog dari Ponorogo, Tari Remo dari Jawa Timur, Tari Emprak dari Jawa Tengah, Tari Golek Menak dari Yogyakarta, dan Tari Sintren dari Jawa Tengah.
5. Kalender
Salah satu kekayaan budaya Jawa yang tidak dimiliki oleh suku lain adalah Kalender Jawa. Kalender ini merupakan penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram. Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, Sultan Agung memutuskan untuk meninggalkan Kalender Saka dan menggantinya dengan Kalender Hijriah dengan penyesuaian budaya Jawa. Kalender Jawa dibuat dengan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Budha, dan budaya Eropa.

Dalam kalender sistem Jawa, siklus harian yang dipakai ada dua macam, yakni siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu) serta siklus minggu pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran (Manis, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon). Untuk hitungan bulan, Kalender Jawa juga memiliki 12 bulan, yakni Sura, Supar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rajab, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar.
6. Hitungan Jawa
Masyarakat tradisional Jawa juga memiliki sistem perhitungan untuk membuat keputusan-keputusan penting. Sistem perhitungan ini biasa disebut dengan Neptu, meliputi angka perhitungan hari, hari pasaran, bulan, dan tahun Jawa. Setiap hari, hari pasar, bulan, dan tahun memiliki nilai yang berbeda-beda. Dari nilai perhitungan total itulah nantinya akan diketahui baik-buruknya keputusan yang akan diambil.

Perhitungan ini juga bisa didasarkan pada susunan Aksara Jawa (ha na ca ra ka, da ta sa wa la, pa dha ja ya nya, ma ga ba tha nga). Setiap aksara memiliki nilai yang berbeda-beda, misalkan ha, da, pa, ma masing-masing nilainya 1 dan huruf na, ta, dha, ga masing-masing nilainya 2, begitu juga seterusnya. Dari total perhitungan tersbut nantinya akan dicocokkan dengan 5 unsur, yakni Sri, Lungguh, Gedhong, Loro dan Pari. Unsur Sri, Lungguh dan Gedhong merupakan unsur positif, sedangkan Loro dan Pati adalah unsur negatif yang biasanya akan dihindari oleh orang Jawa.
Nah, itulah 6 kebudayaan Suku Jawa yang masih diwariskan secara turun-temurun hingga bisa kita temui sampai sekarang. Meski masih ada, bukan tidak mungkin dengan derasnya era modernisasi kebudayaan Jawa ini bisa tergerus. Oleh karena itu, peran generasi mudanya lah yang akan menentukan bagaimana kelestarian kebudayaan ini nantinya.(Ist)

Editor :J.Wick

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *