KORDANEWS – Tensi menjelang babak semifinal Piala Dunia 2026 semakin membara. Pelatih tim nasional Prancis, Didier Deschamps, secara terbuka memprediksi bahwa laga perebutan tiket final melawan Spanyol akan menjadi sebuah duel kolosal yang sangat “spektakuler”.
Pertandingan bertajuk super big match ini dijadwalkan berlangsung di Dallas Stadium (AT&T Stadium), Arlington, Texas, pada Rabu, 15 Juli 2026 dini hari WIB. Banyak pengamat menilai laga ini merupakan “final kepagian” mengingat performa luar biasa serta status unggulan yang disandang oleh kedua raksasa sepak bola Eropa tersebut sepanjang turnamen berlangsung.
Deschamps Pilih Merendah dan Puji Spanyol
Meskipun Prancis saat ini menyandang status sebagai tim peringkat satu dunia dalam daftar FIFA dan sukses menyapu bersih seluruh laga turnamen dengan kemenangan, Deschamps memilih untuk tetap membumi. Pelatih yang membawa Prancis juara dunia 2018 itu justru melemparkan status favorit juara kepada kubu La Roja.
Deschamps mengingatkan semua pihak agar tidak melihat hasil imbang tanpa gol yang diraih Spanyol saat melawan Tanjung Verde di laga perdana fase grup. Menurutnya, setelah laga tersebut, tim besutan Luis de la Fuente langsung tancap gas dan menjelma menjadi unit tempur yang sangat mengerikan, baik dalam menyerang maupun bertahan.
“Spanyol telah membuktikan di atas lapangan mengapa mereka layak menjadi favorit utama. Mereka mampu menyerang dengan intensitas tinggi dan bertahan dengan sama baiknya. Faktanya, mereka baru kebobolan satu gol sepanjang turnamen ini,” ujar Deschamps dalam sesi konferensi pers pra-pertandingan.
“Baik saya maupun Luis (de la Fuente) adalah tipe pelatih yang sangat menekankan kedisiplinan taktik dan pertahanan. Namun, dengan kualitas kreativitas serta lini serang luar biasa yang dimiliki oleh kedua tim saat ini, saya sangat yakin ini akan menjadi pertandingan yang spektakuler untuk ditonton,” tambahnya.
Bentrokan Dua Kekuatan Terbesar Semesta Sepak Bola
Pertemuan di Dallas nanti akan menjadi panggung pembuktian antara ketajaman lini depan Les Bleus melawan kokohnya tembok pertahanan milik Spanyol. Prancis datang dengan modal produktivitas tinggi, sementara Spanyol mengandalkan organisasi permainan yang sangat rapi.















