Home Sumsel Masyarakat Sumsel Diimbau Tetap Patuhi Prokes Ketat Pada Libur Nataru

Masyarakat Sumsel Diimbau Tetap Patuhi Prokes Ketat Pada Libur Nataru

Situasi Penerapan PSBB di kota Palembang (Dok. KORDANEWS)

KORDANEWS — Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 akan diterapkan di libur Natal dan Tahun Baru di seluruh wilayah Indonesia.
Rencananya, pelaksanaannya akan dilakukan pada 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022.

Sebelumnya, melalui keterangan resmi pada Rabu (17/11/2021), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy mengatakan kebijakan yang ditujukan untuk mengurangi mobilitas masyarakat pada kegiatan libur akhir tahun.

“Kebijakan status PPKM level 3 ini akan berlaku mulai 24 Desember 2021 sampai 2 Januari 2021,” kata Muhadjir.

Muhadjir mengatakan, sudah ada kesepakatan bahwa aturan yang berlaku di Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali nantinya diseragamkan.

Meskipun demikian, kebijakan tersebut akan diterapkan setelah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menerbitkan instruksi mendagri (inmendagri) terbaru yang paling lambat ditetapkan pada 22 November 2021.

Selain itu, seiring dengan penerapan PPKM level 3 di seluruh Indonesia, sejumlah kegiatan yang dilarang pelaksanaannya pada libur Natal 2021 dan tahun baru 2022 seperti perayaan pesta kembang api, pawai, arak-arakan yang mengumpulkan kerumunan besar.

Adapun kebijakan larangan kegiatan dan penerapan PPKM level 3 di seluruh Indonesia dilakukan dalam rangka memperketat pergerakan orang guna mencegah lonjakan kasus Covid-19.

Menurut Muhadjir, kebijakan ini diperlukan untuk menghambat dan mencegah penularan Covid-19, tetapi ekonomi harus tetap bergerak.

Dengan demikian, akan ada keseragaman secara nasional dalam penerapan PPKM.

“Nantinya seluruh wilayah di Indonesia, baik yang berstatus PPKM level 1 maupun 2, akan disamaratakan dengan menerapkan aturan PPKM level 3,” kata dia.

Selain itu, pengetatan dan pengawasan protokol kesehatan dilakukan di sejumlah destinasi, terutama di gereja pada saat perayaan Natal, di tempat perbelanjaan, dan destinasi wisata lokal.

Sementara, untuk ibadah Natal, kunjungan wisata, dan pusat perbelanjaan, pelaksanaannya akan menyesuaikan dengan kebijakan PPKM level 3.

Menyikapi aturan baru tersebut Gubernur Sumatera Selatan  Herman Deru mengingatkan masyarakat untuk tidak abai protokol kesehatan jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Herman Deru menjelaskan, imbauan diberikan sebagai tindaklanjut dari dikeluarkannya kebijakan nasional dengan ditetapkannya kembali semua daerah ke level 3 Covid-19 jelang Nataru.

“Harus bersyukur, Covid-19 sudah melandai. Sumsel menjadi provinsi yang berhasil dalam menurunkan kasus Covid-19. Tetapi jangan lalai, tetap terapkan prokes dalam kegiatan sehari-hari,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Surveilans dan Imunisasi Dinkes Sumsel, Yusri menyebut akan tetap mematuhi aturan yang diberlakukan oleh pemerintah pusat demi meminimalisasi penularan Covid-19.

“Pada prinsipnya kita ikuti saja aturan pusat dan kita siap. Kita laksanakan sesuai protokol di ketentuan masing-masing level yang biasanya tertuang dalam Inmendagri,” ujar Yusri, Senin (22/11/2021).

Menurut Yusri, libur panjang di pengunjung tahun merupakan ujian bagi Indonesia saat wabah Covid-19, khususnya di Sumsel.

Ini karena momen tersebut sering dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat untuk melakukan wisata sehingga memicu pergerakan masyarakat yang semakin meningkat.

“Adanya perpindahan atau mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain akan sangat mendukung untuk penularan (Covid-19),” kata dia.

Sedangkan untuk ibadah Natal, kunjungan wisata, dan pusat perbelanjaan, pelaksanaannya akan menyesuaikan dengan kebijakan PPKM level 3.

Jika ada objek wisata di Sumsel, seperti Pagar Alam, akan membuka akses wisata bagi masyarakat yang hendak melakukan kunjungan wisata harus menerapkan penyesuaian aturan yang berlaku.
Hal tersebut bertujuan agar aktivitas yang dilakukan tidak menjadi klaster penularan Covid-19.

“Patuhi saja sesuai protokol PPKM. Kalau level PPKM mengharuskan pendatang rapid antigen pada saat datang, misal menginap di hotel petugas harus menanyakan hasil tes tersebut,” ujar Yusri.

Selain itu, pendatang di lokasi wisata juga wajib melakukan skrining pendatang agar dapat terdata dengan baik.

“Harus patuhi aturan yang diterapkan oleh pemerintah setempat di samping juga scan barcode Pedulilindungi,” jelas Yusri.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dan mengikuti program vaksinasi yang telah digencarkan oleh pemerintah.

“Jangan sampai lengah dan tetap waspada serta harus terapkan 5M,” katanya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan provinsi Sumsel pada 17 November lalu, tidak ada tambahan kasus yang dikategorikan sebagai probable.
Kemudian, ada tambahan dua kasus positif, 25 kontak erat, dan 78 suspek dan 38 kasus konfirmasi aktif dalam proses perawatan.

Dari data tersebut, total positif sebanyak 59.912, sembuh 56.797 dan meninggal 3.077.

Secara keseluruhan, hingga kini vaksinasi di Sumsel untuk dosis pertama telah mencapai 50,09 persen atau dari target sasarn 6,3 juta penduduk sekitar 3,1 juta penduduk telah divaksin.

Sementara, untuk dosis kedua telah mencapai 28,71 persen atau 1,8 juta telah disuntik vaksin.

Vaksinasi ini terus digencarkan dengan menyasar beragam kalangan mulai dari usia remaja hingga dewasa demi mengejar kekebalan kelompok (herd immunity). (Trq)

Editor : Admin

Tirto.ID
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here