Budaya

Atraksi Balap Sapi Khas Indonesia

×

Atraksi Balap Sapi Khas Indonesia

Sebarkan artikel ini

Pacu Jawi merupakan permainan tradisional yang populer di Tanah Datar. Setiap tahunnya penyelenggaraan lomba ini digelar secara bergiliran selama empat minggu di empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar yaitu Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum dan Kecamatan Sungai Tarab. Biasanya penyelenggaraan dilangsungkan pada bulan Juli.

Pacu Jawi biasanya diselenggarakan di sawah yang sudah selesai dipanen. Pada awalnya memang Pacu Jawi memang diselenggarakan sebagai acara hiburan bagi para petani sehabis panen untuk mengisi waktu luang. Selain itu, ini juga bentuk rasa syukur atas hasil panen yang berlimpah.

Atraksi ini belakangan semakin populer di kalangan wisatawan, terutama bagi para pecinta fotografer, karena sangat menarik untuk diabadikan dengan lensa kamera. Selain itu, memotret Pacu Jawi juga bisa melatih skill memotret agar bisa menangkap momen yang tepat, meski objek bergerak cepat.

(M Catur Nugraha/d’Traveler)

Lokasi diselenggarakannya Pacu Jawi yang semula sawah, mendadak ramai dengan warga yang menonton. Mereka berbondong-bondong datang, bahkan dari kampung tetangga juga datang. Tak ketinggalan wisatawan maupun turis bule ikut nonton juga.

Meski sama-sama adu cepat sapi, namun pada dasarnya Pacu Jawi dan Karapan Sapi punya perbedaan yang mendasar. Terutama soal lahan yang digunakan. Biasanya Karapan Sapi diselenggarakan di tanah yang datar, sementara Pacu Jawi diselenggarakan di lahan sawah yang basah.

Perbedaan lainnya, Pacu Jawi tidak diadu dengan pasangan sapi lainnya. Perlombaan dinilai dari kecepatan menempuh lintasan dan lurus atau tidaknya sapi itu berlari. Yang jadi pemenang di Pacu Jawi adalah sapi yang paling cepat dan lurus jalannya.

Pacu Jawi sekarang jadi agenda tahunan yang rutin digelar. Momen saat air bercampur lumpur terpercik ketika sapi dan jokinya lewat, jadi buruan wisatawan pehobi fotografi untuk menghasilkan foto yang dramatis. Traveler yang liburan ke Sumatera Barat wajib rasanya menonton perlombaan unik ini.

(Miksan Ansori/d’Traveler)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *