KORDANEWS – Di Indonesia, sunat atau sirkumsisi sering kali diidentikkan dengan ritual keagamaan atau tradisi budaya menjelang usia remaja. Namun, dari sudut pandang sains dan kedokteran modern, prosedur membuang kulit kulup (lapisan kulit yang menutupi kepala penis) ini merupakan salah satu tindakan medis yang memiliki dampak jangka panjang paling signifikan bagi kesehatan pria.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama berbagai asosiasi dokter anak di seluruh dunia telah lama merekomendasikan sirkumsisi karena terbukti mampu mencegah berbagai penyakit berbahaya, mulai dari infeksi ringan hingga kanker mematikan.
Menghilangkan Sarang Bakteri dan Kuman
Manfaat paling mendasar dari sunat adalah kemudahan dalam menjaga kebersihan organ intim. Pada pria yang tidak disunat, area di bawah kulit kulup sangat rentan menjadi tempat menumpuknya smegma, yaitu zat berwarna putih dan berbau yang terbentuk dari campuran sel kulit mati, minyak, dan keringat.
Jika tidak dibersihkan secara telaten setiap hari, smegma ini akan menjadi tempat berkembang biak yang sempurna bagi bakteri dan jamur. Kondisi ini sering kali memicu balanitis (peradangan pada kepala penis) dan fimosis, sebuah kondisi medis di mana kulit kulup terlalu ketat sehingga tidak bisa ditarik ke belakang, yang menyebabkan rasa nyeri hebat saat buang air kecil maupun ereksi.
Benteng Pertahanan Terhadap Infeksi Menular Seksual
Selain menjaga kebersihan harian, penelitian berskala global menunjukkan bahwa sunat bertindak sebagai pelindung yang efektif terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS). Pria yang telah disunat memiliki risiko yang jauh lebih rendah untuk tertular virus HIV, herpes, dan sifilis.
Secara biologis, bagian dalam kulit kulup memiliki konsentrasi sel imun (sel T) yang sangat tinggi, yang justru menjadi pintu masuk utama bagi virus seperti HIV. Dengan membuang kulit tersebut, permukaan penis menjadi lebih kering dan tebal, sehingga meminimalkan risiko robekan kecil saat berhubungan intim yang bisa menjadi jalur penularan virus.















