KORDANEWS – Banyak penderita saraf kejepit beranggapan bahwa terapi “kretek-kretek” atau manipulasi tulang punggung adalah cara paling cepat untuk sembuh. Cukup dipijat atau digerakkan hingga berbunyi “krek”, maka saraf yang terjepit dianggap sudah kembali pada tempatnya. Namun benarkah demikian? Berikut penjelasan lengkap berdasarkan pandangan medis.
Apa Sebenarnya Bunyi “Kretek” Itu?
Saat tulang atau ruas tulang belakang digerakkan hingga menimbulkan bunyi keras, bunyi itu bukan berasal dari tulang yang kembali pada posisi semula, melainkan dari pecahnya gelembung gas yang ada di dalam cairan pelumas sendi. Saat ruas tulang diregangkan secara tiba-tiba, tekanan di dalam ruang sendi menurun dan gelembung gas itu pecah menimbulkan bunyi khas. Artinya, bunyi itu bukan jaminan bahwa saraf yang terjepit sudah terlepas.
Bisa Meredakan, Tapi TIDAK Menyembuhkan Secara Langsung
Para dokter spesialis sepakat bahwa terapi kretek-kretek bukanlah obat penyembuh saraf kejepit. Rasa lega atau berkurangnya nyeri sesaat setelah dikretek terjadi karena otot yang tegang menjadi lebih rileks dan tubuh melepaskan zat pereda nyeri alami. Namun masalah utamanya — yaitu tekanan pada saraf — belum tentu hilang. Saraf yang terjepit bisa saja masih tertekan oleh bantalan tulang yang menonjol, tulang yang tumbuh berlebih, atau jaringan yang menebal.
Bahkan, banyak kasus justru memburuk setelah dikretek secara sembarangan. Ada penderita yang awalnya masih bisa beraktivitas, namun setelah dikretek nyerinya makin hebat, kesemutan menjalar ke kaki, hingga terjadi kelemahan otot yang menyulitkan berjalan. Manipulasi yang salah sasaran bisa memperparah penekanan pada saraf dan menimbulkan risiko cedera serius.















