Sumsel

Injeksi Air Jadi Strategi PT BPP Menjaga Kelembapan Lahan Gambut

×

Injeksi Air Jadi Strategi PT BPP Menjaga Kelembapan Lahan Gambut

Sebarkan artikel ini

Penerapan sistem injeksi air tersebut menjadi bagian dari strategi penanggulangan karhutla PT BPP yang bertumpu pada empat pilar, yakni persiapan (preparation), pencegahan (prevention), deteksi dini (early detection), dan respons cepat (rapid response). Pengelolaan tata air menjadi bagian dari upaya pencegahan sekaligus mendukung kesiapan ketika respons lapangan dibutuhkan.

Selain sistem injeksi, pengelolaan air dilakukan melalui sekat kanal untuk membantu menahan dan mengatur pergerakan air di kawasan gambut. Pada lokasi tertentu, sistem tersebut disesuaikan dengan karakteristik hidrologi setempat, termasuk kawasan yang dipengaruhi pasang surut. Meski demikian, ketersediaan air tetap dapat berkurang pada musim kemarau akibat evaporasi dan transpirasi.

Untuk memindahkan air dalam jumlah besar, PT BPP menggunakan beberapa jenis pompa sesuai kebutuhan lapangan. Pompa sentrifugal memiliki kapasitas sekitar 18.000 liter per menit, sementara pompa axial mampu memindahkan sekitar 12.000 liter per menit dan digunakan antara lain untuk mendukung pemindahan air antarsekat kanal. PT BPP juga mengembangkan pompa bazooka berkapasitas sekitar 2.400 liter per menit untuk kebutuhan pembasahan pada kondisi tertentu.

Pemilihan pompa disesuaikan dengan lokasi sumber air, kondisi medan, jarak distribusi, serta volume air yang dibutuhkan. Sistem injeksi juga dapat dikombinasikan dengan embung atau water trap agar air yang telah dipindahkan dapat ditahan dan dimanfaatkan lebih lama.

Ketersediaan air tersebut menjadi penting ketika terjadi kebakaran. Kanal dan embung yang masih memiliki cadangan air dapat digunakan untuk mendukung pembasahan maupun operasi pemadaman di sekitar lokasi kejadian, sehingga sumber air dapat dijangkau lebih cepat oleh tim di lapangan.

Bowo menambahkan, pengelolaan air tidak hanya berkaitan dengan pencegahan karhutla. Kondisi tata air juga berpengaruh terhadap kelembaban gambut, produktivitas tanaman, mobilitas operasional, hingga risiko penurunan permukaan gambut atau peat subsidence.

“Prinsipnya adalah bagaimana air yang tersedia dapat dikelola, dipindahkan, disimpan, dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan sebagai bagian dari sistem pengelolaan kawasan secara menyeluruh,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *