Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menggunakan sendok atau mengambil makanan yang sesuai dengan kemampuan perkembangannya.
Makan mungkin menjadi lebih berantakan, tetapi proses tersebut dapat membantu anak belajar mengenali makanan dan mengembangkan keterampilan makan.
Tetap dampingi anak selama makan dan pastikan makanan disiapkan dengan bentuk serta tekstur yang aman.
Orang Tua Perlu Menjadi Contoh
Anak banyak belajar dengan meniru orang di sekitarnya.
Jika orang tua makan sayur, buah, ikan, telur, dan berbagai makanan sehat lainnya dengan santai, anak memiliki kesempatan untuk melihat kebiasaan tersebut secara langsung.
Makan bersama keluarga juga dapat menjadi cara untuk menciptakan suasana makan yang lebih menyenangkan.
Sebaliknya, waktu makan sebaiknya tidak dipenuhi dengan gadget atau televisi. Mengurangi distraksi dapat membantu anak lebih fokus terhadap makanan dan sinyal lapar atau kenyang dari tubuhnya.
Jangan Menjadikan Makanan sebagai Hadiah
Kebiasaan memberikan makanan manis sebagai hadiah juga perlu diperhatikan.
Contohnya, orang tua mengatakan, “Kalau mau makan sayur, nanti boleh makan permen.”
Pola tersebut dapat membuat anak menganggap makanan tertentu sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, sementara makanan manis dipandang sebagai hadiah.
Lebih baik orang tua memberikan apresiasi terhadap usaha anak mencoba makanan baru tanpa menjadikan makanan tertentu sebagai hadiah.
Perhatikan Keamanan Makanan
Selain masalah pilih-pilih makanan, keamanan juga menjadi perhatian penting pada anak usia dini.
Makanan perlu disesuaikan dengan kemampuan anak untuk mengunyah dan menelan. Beberapa makanan dengan bentuk, ukuran, atau tekstur tertentu dapat meningkatkan risiko tersedak.
Anak sebaiknya makan sambil duduk dan selalu berada dalam pengawasan orang dewasa. Makanan seperti kacang utuh, popcorn, anggur utuh, serta potongan makanan berbentuk bulat dan licin perlu mendapatkan perhatian khusus.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi?
Pilih-pilih makanan tidak selalu berarti anak mengalami masalah kesehatan. Namun, orang tua perlu memperhatikan kondisi anak secara keseluruhan.
Jika anak terus-menerus makan dalam jumlah sangat terbatas, berat badan atau pertumbuhannya mengalami masalah, sering tersedak ketika makan, atau daftar makanan yang mau dikonsumsi semakin sedikit, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi.
Pada akhirnya, membangun kebiasaan makan anak membutuhkan kesabaran. Orang tua tidak perlu memaksa anak menyukai semua makanan dalam waktu singkat.
Dengan jadwal makan yang teratur, suasana makan yang nyaman, pengenalan makanan secara bertahap, serta contoh dari keluarga, anak dapat perlahan belajar menerima lebih banyak jenis makanan.















