Dua Gadis Asal Sumsel, Nyaris Jadi Korban Perdagangan Manusia

KORDANEWS — Dua gadis asal Sumatera Selatan menjadi korban perdagangan manusia atau human traffiking. Musibah tersebut dialami mereka, berawal dari lowongan pekerjaan yang dilihatnya melalui Facebook.

 

 

Namun keberuntungan masih memihak mereka yang masih bersaudaraan dengan berhasil lolos dari jeratan perdagangan manusia.

 

 

Diketahui dengan harga berkisar 30 hingga 35 juta dua gadis yang bernama Nica (22) warga OKU dan Vera (22) warga Palembang. Para pelaku tega menjualnya ke negara tetangga yakni Malaysia, bahkan salah satu dari mereka mengalami penyiksaan dan hampir dibuang.

 

 

Ketika ditemui di kediamannya yang di kawasan Sekip bendung, nampak Kondisi Nica (22) dan Vera (22) masih trauma, pada Kamis (7/11) siang.

 

 

Terlihat kondisi Nica masih lemas sementara  Vera sudah dapat berbicara dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya.

 

 

Vera menuturkan pertama kali mendapatkan informasi lowongan pekerjaan dari kolom pencarian Laman facebook miliknya. Vera pun langsung men-chat dan disambut dengan baik.

 

 

“Saya chat dia, dia bilang kami mau dipekerjakan di Malaysia sebagai karyawan restoran. Kami setuju asal resmi dan tidak dijadikan pembantu rumah tangga,” ungkapnya.

 

 

Keduanya pun melengkapi beragam berkas hingga akhirnya orang yang mengaku agensi mengirimkan tiket penerbangan kepada mereka.

 

 

Vera dan Nica pun berangkat dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II menuju ke Bandara di Surabaya, Jawa Timur (Jatim)
di Surabaya.

 

 

Merekadijemput pasangan suami istri, AG dan LN yang kemudian menginap di rumahnya. Setelah itu, mereka pun diajak kekantor imigrasi kawasan Jatim untuk berangkat menuju Batam.

 

 

“Kami baru diberitahu sesaat mau berangkat ke Batam, Saya akan bekerja di kedai sementara sepupu saya (Nica) sebagai baby siter, saya marah tapi tak dihiraukan lagi,” katanya.

 

 

 

Keduanya berpisah di pelabuhan menuju ke Malaysia. Vera berangkat terlebih dahulu sementara Nica belakangan.

 

 

 

Vera mengaku selama di Malaysia diminta bekerja selama 20 jam dalam satu hari, Mulai dari bangun pukul 03.00 hingga tidur pukul 00.00 WIB.

 

 

 

Pekerjaannya mulai dari bersih bersih rumah, memasak, dan menjadi buruh di toko.

 

 

 

“Majikan saya disana itu punya toko, saya bangun jam 3 subuh, menyapu, mengepel, memasak. Kemudian berangkat ke toko, diminta memikul beberapa karungan gula dan beras,” katanya.

 

 

 

“Kemudian pulang jam 5 sore, dan melanjutkan pekerjaan di rumah, mulai dari memasak, menyetrika, masak makan malam dari lain sebagainya, majikan saya bilang kamu makan setelah kami makan, kamu tidur setelah kami tidur,” katanya.

 

 

 

Vera mengaku berulangkali mendapatkan perlakuan kasar majikannya, mulai dari ditendang, diinjak, dijewer bahkan.Majikan menganggap Vera tak patuh dan kerap melawan sehingga berbuat kasar.

 

 

Bahkan, Vera sempat disiram air bekas air cucian daging babi karena majikan menganggap melawan perintahnya, ia mengaku tidak bisa berkomunikasi karena ponselnya disita oleh majikan.

 

 

 

“Semakin melawan saya semakin dianiaya, saya dimasukkan ke kamar, ditendang, ditampar bahkan diinjak menggunakan sepatu hak tinggi, hingga tempurung kaki memar-memar,” katanya.

 

 

 

Majikan pun sempat mengembalikannya ke agensi, beberapa hari di agensi dirinya kembali disiksa saat diserahkan ke pada majikan baru.

 

 

“Katanya saya sudah dibeli Rp 35 juta. Kalau mau bebas saya harus membayar dulu uang itu,” jelasnya.

 

 

Beruntung Vera dan Nica berhasil diselamatkan setelah keduanya mengelabui majikan sewaktu diajak untuk memperpanjang paspor di Batam.(Ndik)

 

 

 

 

Editor : Jhonny

gadis di Sumsel human traffiking perdagangan manusia

Related Post

Leave a reply

Tirto.ID
Loading...