Health

Benarkah Makanan yang Dipanggang Tingkatkan Risiko Kanker?

×

Benarkah Makanan yang Dipanggang Tingkatkan Risiko Kanker?

Sebarkan artikel ini

KORDANEWS -Menikmati sajian saat bbq time bersama teman dan kerabat tentu sangat menyenangkan. Namun di sisi lain, ada bahaya yang mengintai ketika mengonsumsi makanan yang dipanggang. Metode memasak dengan suhu tinggi ini menghasilkan senyawa yang bisa memicu mutasi DNA penyebab kanker.

dilansir sehatq.com tentu saja, ini juga berkaitan erat dengan frekuensi dan jenis makanan yang dikonsumsi. Meski tak ada satu jenis makanan yang jadi sumber penyakit, berlebihan mengonsumsi masakan tertentu juga tidaklah baik.

Sehatkah konsumsi makanan yang dipanggang?

Sebenarnya belum ada banyak penelitian yang secara spesifik membahas tentang metode memanggang bahan masakan. Umumnya, studi menganalisis metode memasak dengan suhu tinggi seperti grill, roast, broil, dan juga fry atau menggoreng.

Untuk membedakannya, jenis olahan bahan makanan yang dipanggang adalah yang bersentuhan langsung dengan sumber panas. Sementara metode roasting umumnya memerlukan alat seperti oven.

Lain lagi halnya dengan broiling yaitu metode memasak dengan memberikan api atau panas dari bagian atas.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan terkait risiko mengonsumsi makanan yang dipanggang?

Risiko peradangan
Bahan makanan yang dipanggang secara alami akan menghasilkan advanced glycation end products atau AGEs. Ini adalah reaksi spontan antara gula dan protein akibat panas saat makanan dipanggang. Hal yang sama juga terjadi dalam proses memasak lain dengan suhu tinggi.

Konsumsi AGEs terlebih banyak bisa menyebabkan peradangan. Tak hanya itu, ini juga berkaitan dengan memburuknya penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.
Bersifat karsinogenik

Jangan remehkan pula senyawa yang terbentuk ketika protein hewani dimasak. Senyawa ini disebut dengan heterocyclic amines (HCAs) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs). Semakin tinggi suhu dan semakin lama proses memasak, angkanya kian tinggi.

PAHs terbentuk ketika lemak dari daging menetes ke arang atau elemen memanggang. Kemudian, akan terjadi penumpukan lemak dan berdampak pada api dan juga asapnya.

Sementara HCAs akan muncul ketika daging merah, daging unggas, dan juga ikan diproses lewat metode memasak suhu tinggi. Contohnya seperti grilling dan broiling.

Tak hanya itu, kedua senyawa ini juga bisa membuat protein hewani bersifat karsinogenik. Namun, belum ditemukan hubungan langsung antara kondisi ini dengan risiko kanker pada manusia.

Bahaya menghirup asap

Menikmati aroma asap BBQ tentu membuat lidah bergoyang. Namun, ini tidaklah sehat. sebab, di dalamnya terdapat polycyclic aromatic hydrocarbons atau PAHs. Senyawa ini merupakan penyebab terjadinya mutasi DNA, penyakit pernapasan, bahkan kanker paru-paru.

Ini penting diperhatikan mengingat tradisi menikmati BBQ bersama di udara terbuka masih sangat populer. Ketika berkumpul pun, secara tak sadar akan ada paparan asap dari panggangan dalam periode cukup lama.

Risiko kanker
Lebih jauh lagi, individu yang sangat sering mengonsumsi makanan yang dipanggang juga berisiko paling rentan menderita kanker tertentu. Utamanya, kanker usus, pankreas, dan juga kandung kemih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *