KORDANEWS – Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) bersama Penyuluh Pertanian melaksanakan Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Padi di Desa Kandis, Kecamatan Kandis, Kabupaten Ogan Ilir. Kegiatan ini menyasar hamparan padi seluas 35 hektare dengan varietas IR 42 yang terindikasi terkena penyakit hawar daun bakteri atau dikenal sebagai kresek.
“Pada luasan 2 hektare yang telah terserang, kami melakukan pengendalian dengan aplikasi bio-fungisida berbahan aktif Streptomyces thermovulgaris dan Geobacillus thermocatenulatus,” ujar Petugas POPT Junaidi, di sela kegiatan, Kamis (15/8). Menurutnya, kedua mikroba tersebut terbukti efektif menekan perkembangan bakteri Xanthomonas oryzae yang menjadi penyebab utama penyakit kresek.
Bio-fungisida ini bekerja dengan menghasilkan senyawa antimikroba yang merusak dinding sel patogen serta bersaing dalam penyerapan nutrisi di permukaan daun maupun akar tanaman. “Selain efektif, penggunaan bio-fungisida juga lebih aman karena tidak meninggalkan residu kimia dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan,” jelas Junaidi.
Adapun cara aplikasi dinilai cukup sederhana, yakni melarutkan 1 gram produk dalam 1 liter air, didiamkan selama 3–24 jam, kemudian diencerkan hingga 90 liter air sebelum disemprotkan ke daun dan batang padi. Frekuensi penyemprotan bervariasi, mulai dari setiap 10–15 hari secara preventif hingga setiap 1–2 hari pada intensitas serangan tinggi.















