“Semoga Pak Presiden Jokowi juga memberikan pengobatan gratis kepada teman-teman kami yang terkena ISPA,” ucap dia.
Sementara itu, Kepala Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Nurlela, mengatakan, jika aksi yang dilakukan siswanya merupakan bagian pembelajaran siswa dari beberapa mata pelajaran. “Ya, seperti pelajaran Bahasa Indonesia yakni anak-anak di ajarkan melatih untuk mengungkapkan apa yang dialaminya. Dalam hal ini kabut asap dalam bentuk sajak puisi dan surat terbuka. Selain itu dalam pelajaran Geografi melatih siswa untuk memahami penyebab kabut asap terjadi dan soslusinya,” kata Nurlela.
Dia menambahkan, selama kabut asap terjadi sudah dua kali sekolah diliburkan selama tiga hari sampai sepekan. Apalagi, kata dia, hingga kini kabut asap tak kunjung hilang.
“Anak-anak ada yang terkena ISPA dan mata perih. Ini (kabut asap) sangat mengganggu, apalagi anak-anak sedih tidak bisa belajar di sekolah,” tuturnya.
Editor : Jhonny











